dedy.AnakSapi.com

dedy.Anaksapi.com

:: Sebuah cerita tentang salah satu Gembala Sapi ::

Nikmatnya Datang Pagi
By : DW on February 1, 2011 at 11:41 am

Bisa datang pagi sebelum jam kerja dimulai, merupakan sebuah pencapaian spektakuler bagi diri saya. Karena selama 1 tahun terakhir, saya lebih sering datang siang dari pada datang pagi. Jujur, dengan datang siang dikantor, seakan semuanya jadi kacau.

Bayangkan saja, dengan datang siang, yang saya dapatkan adalah :
- jalanan macet yang tidak berujung
- tenaga terkuras karena macet dan panas
- pandangan aneh dari pak bos dan teman kantor
- rencana pekerjaan yang jadi ikut mundur
- jam pulang pun jadi molor

Beruntung, saya masih sempat dan selalu diingatkan oleh pak bos agar datang lebih pagi. Dan dengan segenap niat, tekat, dan usaha keras, Alhamdulillah, saya bisa datang lebih pagi. Setidaknya masih lebih dulu saya daripada pak bos. Hehehe....sori pak...

Dan setelah ditimbang-timbang, diukur-ukur lagi. Datang lebih pagi menurut saya lebih banyak untungnya. Semenjak datang pagi, yang saya dapatkan adalah :
- kondisi jalanan yang lengang, bisa gas pol sekali dua kali lah
- udara yang lebih bersih dan lebih dingin
- percaya diri saat melangkah melalui jalur utama di dalam kantor. Hehehe....
- bisa curi start pekerjaan, paling tidak lebih siap dengan segala kemungkinan
- jam pulang lebih awal, dan nggak sungkan kalau pulang duluan
- selalu lebih siap sedia saat dibutuhkan sewaktu-waktu

Sempat saya berdiskusi dengan teman sebelah yang suka datang pagi juga, "kenapa ya, banyak dari kita yang lebih suka datang siang daripada datang pagi?".     

Dia malah bertanya balik, "Iya ya, kenapa yah pak?".

Kalau mau dibilang males, yowes lah, itu alasan yang tidak ada tandingannya.
Tapi kalau alasan rumahnya jauh atau macet, kenapa tidak berangkat lebih awal?. Kalau alasannya bangun kesiangan, kenapa tidak tidur cepat agar bisa bangun lebih pagi?
Trus alasan apa lagi ya? Apa mungkin seharusnya tidak ada alasan untuk tidak datang lebih pagi?

Balik lagi temen sebelah nyeletuk, "ya kecuali males itu pak...Heheheh..."
dan dengan jawaban politis saya, "itu semua kembali pada pribadi masing-masing".

Kami berdua sama-sama tertawa sambil nyeruput kopi panas...




Judul lain :